Gulat Sumo Dan Sejarah Pertandingan Sumo

Hingga detik ini, belum terdapat arkeolog ataupun ahli sejarah yang sanggup memutuskan bila gulat sumo pertamakali dipraktikkan di Jepang. Uraian yang sangat diyakini sedang semata- mata babad ataupun narasi dari mulut ke mulut dengan cara bebuyutan. Sumo dipercayai pertamakali populer 2 ribu tahun yang sudah melalui, persisnya di era Kaisar Suinin menyuruh Jepang pada tahun ke- 23 saat sebelum Kristen( SM).

Harold Bolitho dalam catatannya,“ Sumo and Terkenal Culture: The Tokugawa Period” yang terangkum dalam Gerak badan: The Development of Gerak badan, menguraikan perlombaan sumo kali awal dijalani seseorang ahli beladiri Nomi Nomor Sukune. Dituturkan beliau ialah salah satu jelmaan Dewa Amaterasu. Beliau lalu dimohon Kaisar Suinin untuk meladeni Taima Nomor Kehaya, ahli beladiri lain yang mengklaim bagaikan orang terkuat di kolong langit.

“ Keduanya berdekatan di Izumo, pantai Pulau Honshu. Kedua petarung silih mengangkut kakinya dan silih menendang. Dalam pertarungan itu Nomi Nomor Sukune mematahkan tulang rusuk dan tulang pinggang Taima Nomor Kehaya sampai berpulang,” ucap Bolitho mengambil serat Nihon Shoki.

Gulat Sumo Yang Mengadakan Tradisi Menabur Garam

Nomi Nomor Sukune juga tidak cuma dihadiahi tanah kewenangan almarhum Taima Nomor Kehaya di Dusun Koshioreda tetapi beliau pula dinamai“ dewa” sumo. Bersamaan era, sumo lalu berhubungan dengan beberapa ritual agama Shinto, semacam di Rentang waktu Nara( tahun 710- 794 Meter) di mana perlombaan sumo acap diselenggarakan dalam bagan keramaian acara panen.

Dalam tiap perlombaan, sumo senantiasa dimulai ritual menabur garam dan memukul kedua tangan saat sebelum masuk dohyo ataupun arena berupa bundar. Saat sebelum ikut serta kontak, para rikishi( pesumo) menghentakkan kaki sebagian kali. Ritual itu berawal dari dongeng agama Shinto kalau Dewa Amaterasu melakoninya saat sebelum mengalami adiknya sendiri, Susanoo.

Para pesumo juga diwajibkan tanpa busana dan cuma memakai mawashi yang menutupi abaimana. Wasitnya acapkali ialah pendeta kuil Shinto setempat. Pertandingannya dicoba dengan tangan kosong dan cuma dapat berhasil dengan mengenyahkan rival ke luar garis batasan dohyo bagus dengan bantingan, lontaran ataupun desakan.

Gulat Sumo Yang Pada Akhirnya Menjadi Sebuah Pertandingan

Pada rentang waktu Morumachi, era ke- 14, sumo dijadikan berolahraga yang lebih bertabiat handal walaupun senantiasa memerlukan 2 era ke depan untuk memberitahukan gulat sumo bagaikan berolahraga di seluruh arah Jepang. Pada Rentang waktu Edo, era ke- 19, sumo kian gempar karena tidak hanya menawarkan martabat, pula mulai mengaitkan duit dan berikan pemasukan besar.

Di rentang waktu Edo pula invitasi akbar sumo se- Jepang mulai diselenggarakan. Sumo juga lama- lama jadi berolahraga nasional. Di dini era ke- 20 apalagi hingga timbul 2 federasi sumo, ialah di Tokyo dan Osaka. Pada 28 Desember 1925, keduanya dilebur jadi Dai- Nihon Sumo Kyokai nama lain Federasi Sumo Jepang, yang berlindung di dasar Departemen Pembelajaran, Adat, Berolahraga, Ilmu Wawasan dan Teknologi.

Di masa seperti itu di Jepang mulai kebanjiran pesumo karena sumo ialah salah satunya media“ pengungsian” para samurai. Pada masa Meiji, akhir era 19, status samurai dihapuskan. Beberapa tradisinya juga dilenyapkan. Salah satunya terpaut martabat bulu- bulu khas samurai. Cuma dalam berolahraga sumo- lah para sisa samurai itu dapat menjaga martabat bulu- bulu mereka.

Perempuan di Arena Gulat Sumo

Bergulirnya era membuat gulat sumo mulai diketahui dunia luar. Tetapi gimana dengan perempuan? Alasannya, kedatangan perempuan luang ditabukan sebab dikira hendak menodai kesakralan dohyo. Juga sedemikian itu, serat Nihon Shoki sempat mengatakan terdapatnya pesumo perempuan.

Serat yang berawal dari tahun 720 Meter itu menguraikan kalau pertamakali perempuan beradu dalam sumo tahun 469 di era Kaisar Yuryaku. Kala itu kaisar menginstruksikan 2 perempuan berkelahi sumo tanpa sehelai juga busana. Perintah itu bermaksud untuk mengunci mulut kearoganan seseorang juru kusen yang mengklaim tidak sempat melaksanakan kekeliruan.

Laga sumo wanita bugil dilakoni untuk mengalihkan konsentrasi si tukang kayu. Ketika akhirnya si tukang kayu bikin kesalahan lantaran fokusnya terganggu, ia pun dieksekusi sang kaisar. Namun seiring waktu, disebutkan wanita dilarang terlibat dalam sumo. Larangan itu baru dicabut pada 1873 (periode Edo).

Setelah Restorasi Meiji (1868-1889), wanita kembali dilarang ikut sumo lantaran dianggap tidak pantas untuk budaya baru Jepang. “Tapi sumo wanita profesional berkembang di Jepang pada 1948 dan meluas lagi pada 1955,” sebut Joseph Svinth dalam Martial Arts of the World: An Encyclopedia of History and Innovation volume I. 

Pemain Gulat Sumo Wanita Di Diskriminasi

Meski sumo wanita tetap eksis hingga kini, diskriminasi tetap bergulir. Contoh kontroversialnya adalah saat Gubernur Osaka Fusae Ohta acap dilarang masuk ke arena untuk menyerahkan trofi pada pemenang dalam turnamen sumo tahunan di Osaka. Pada April 2018, seorang paramedis wanita yang hendak menolong salah satu pesumo yang cedera juga diusir ke luar arena meski pada akhirnya petinggi asosiasi sumo meminta maaf.

Ini setelah Kisenosato kalah tiga kali berturut-turut dalam turnamen papan atas New Year Grand Sumo. Sebelumnya turnamen ini disebut sebagai wadah bagi Kisenosato untuk menyelamatkan karirnya. Namun, kalah di tiga hari pertama pertandingan meruntuhkan segala harapan tersebut.

“Saya sangat menyesal tidak bisa mewujudkan mimpi banyak orang sebagai yokozuna (sumo level teratas),” ungkapnya sambil meneteskan air mata. “Namun, saya tidak menyesali apapun yang telah terjadi sepanjang karir saya ini.”

Kisenosato yang kini berusia 32 tahun adalah pesumo pertama kelahiran Jepang yang masuk dalam level teratas olahraga itu dalam 19 tahun terakhir. Pada tahun yang sama, dia menjadi juara yokozuna dua kali berturut-turut dalam turnamen tersebut.

Namun, cedera di dada, tangan kiri dan bahu membuat langkah Kisenosato terhalang. “Sejak cedera berangsur pulih, saya yakin saya akan bisa kembali berlaga,” ungkapnya. “Namun, untuk pertama kalinya sepanjang pengalaman tanding, saya merasa tidak bisa lanjut lagi.”

Didominasi Atlet Gulat Sumo ‘asing’

Dalam satu dekade terakhir Gulat Sumo didominasi oleh atlet yang lahir di luar Jepang. Misalnya saja Asashoryu dan Hakuho asal Mongolia yang menjuarai mayoritas turnamen.

Kurangnya pesumo Jepang membuat banyak senior di cabang olahraga ini khawatir. Meskipun begitu, mereka juga merasa Kisenosato dulu dipromosikan terlalu dini untuk menjadi yokozuna. Selain minimnya atlet dari Jepang di kompetisi atas sumo, olahraga ini beberapa tahun terakhir juga diguncang berbagai skandal.

Di antaranya kasus perisakan terhadap pesumo muda, dan atlet yang ketahuan berjudi dalam pertandingan baseball. Tahun lalu, Asosiasi Sumo Jepang bahkan dikritik karena tenaga medis perempuan dipaksa keluar lapangan saat berupaya menyelamatkan seorang ofisial lelaki yang pingsan di sebuah pertandingan di Kyoto.

Ring sumo atau yang dikenal sebagai dohyo dianggap suci dalam olahraga yang hanya diikuti lelaki itu. Perempuan dilarang masuk karena dianggap “tidak bersih”. Kisenosato tampil berlaga untuk pertama kalinya pada 2002. Dia masuk dalam kompetisi atas pada 2004.

Share Now

Related Post

Leave us a reply